Muthahhari Students Never Cease To Amaze Me!

Muthahhari Students Never Cease To Amaze Me!

Oleh: K.H. Miftah F. Rakhmat, Lc., M.A. (Pembina Yayasan Muthahhari)

Allah yarham Ayahanda tercinta pernah berkata, “Muthahhari Students never cease to amaze me!” Anak-anak sekolah tidak pernah berhenti membuat beliau takjub. Beliau kagum dengan potensi dan semangat anak-anak muda yang tanpa batas. Seakan bintang itu sedang bersinar terang di atas dahi mereka, dan memang demikianlah nyatanya! Anak-anak muda dan puncak potensi kebugaran mereka, lahir dan batin. Kata syair Abu ‘Atahiyah “Fa ya laitas syababu ya’udu yawma.” Andai satu hari, masa muda itu kembali. Bersyukurlah dalam setiap keadaan, alhamdulillah.

Betapa tidak, kemarin anak-anak SMA Plus Muthahhari mempertontokan semangat, vitalitas, dan potensi tak terbatas itu. Saya teringat ucapan Allah yarham karena mengetahui apa yang mereka lakukan dalam sebulan terakhir. Bayangkan, mereka sukses menggelar perhelatan Simulasi Konferensi Asia Afrika akhir Januari lalu. Tidak mudah menanamkan kesadaran sejarah pada anak-anak Gen Z, maka Sekolah menghadirkannya melalui program keren bernama Simulasi KAA. Sederhananya, mereka mereka-ulang peristiwa tahun 1955 itu dengan menghadirkan beberapa delegasi dari berbagai negara. Anak-anak mengubah aula sekolah menjadi Gedung Merdeka. Mereka tampil dengan berbagai bahasa. Tidak lupa pula para pemeran ‘cosplay’ tokoh-tokoh sejarah. Pesan Bung Karno digaungkan kembali. Sebuah pergelaran yang tidak mudah. Kesadaran sejarah ini ditambahkan dengan menggelorakan dan menyuarakan pesan untuk kemerdekaan Palestina. Semua negara peserta Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 sudah merdeka, kecuali Palestina. Sebuah upaya menghidupkan terus perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Foto bersama peserta dan panitia Simulasi Konferensi Asia Afrika (KAA).

Setelah acara Simulasi KAA sukses digelar, anak-anak bergabung dalam tradisi sekolah berikutnya yaitu menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Mereka belajar mengisi malam dengan ibadah, dengan shalat, doa dan munajat. Dan selalu, doa untuk Palestina dan negeri tercinta dipanjatkan. Besoknya, mereka rehat sehari.

Dokumentasi kegiatan ibadah malam Nisfu Sya’ban.

Nah, ini dia. Di sini saya keliru. Saya mengira mereka rehat. Ternyata mereka sibuk persiapan, sibuk gladi, sibuk sana sini. Hanya selang sehari setelah kegiatan menghidupkan malam dengan doa, mereka menggelar perhelatan berikutnya: Soracipta 2026. Sebuah karya persembahan yang dikembangkan dari Akbari, Ajang Kreasi Barudak Muthahhari. Pada momen yang juga disebut Expo ini anak-anak mempertunjukkan kebolehan mereka dalam berbagai bidang: bahasa, seni, fotografi, literasi IT, digital art yang semuanya dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Tentu ini tak mudah. Tentu mereka berlatih di sela-sela rutinitas harian. Tentu ada tim guru dan orang-orang di balik layar yang mendukung kesuksesan. Dan tentu ada semangat anak muda yang menyala bak api di Ijen, Mrapen atau Azerbaijan. Mereka menggabungkan semuanya. Kesadaran sejarah, haru dalam ibadah, dan ungkap syukur atas karunia Allah Swt bakat yang khas ada pada diri mereka. Dan kemampuan mengorganisir semuanya. Salut! Soracipta 2026 yang menghidupkan kearifan lokal Kabayan Iteung di tengah arus zaman dikemas amat apik oleh anak-anak dan para guru sutradara di balik layar.


Dokumentasi kegiatan Soracipta 2026 / Expo.

Saya berdecak kagum, seraya memanjatkan syukur. Terima kasih ya Allah, terhantar doa untuk keberhasilan mereka, untuk masa depan mereka, untuk semangat dan cita-cita. Kiranya cahaya itu akan terus bersinar, memberikan terangnya pada dunia dan hangat kasih untuk sesama.

Terima kasih para guru, orangtua, dan anak-anak semua. Sungguh, nikmat yang tak dapat kami tunaikan hak syukurnya.

Fortis Fortuna Adiuvat. Vivat Muthahari!

@miftahrakhmat

Tinggalkan Balasan