KEBERSAMAAN DALAM IBADAH : Indahnya berjama’ah di Sekolah Para Juara

Saat mentari tepat di puncaknya, di tengah sibuknya waktu siang, panggilan adzan menjadi nyanyian yang memanggil jiwa-jiwa muda di SMA Plus Muthahhari untuk berkumpul dalam kekhusyukan. Shalat berjama’ah Zuhur menjadi ikatan yang mempererat, membangun pribadi, dan membiasakan kedekatan mereka dengan Sang Maha Pencipta. Di tempat ini, shalat berjama’ah bukan sekadar ritual rutin, tetapi jalan hidup, penguatan jiwa, dan pelita ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Shalat berjama’ah membimbing mereka melangkah lebih dekat pada Allah, mengalirkan rasa syukur yang kian kuat. Setiap rakaat adalah sapaan penuh cinta, setiap sujud mengajarkan ketundukan hati. Dalam kekhusyukan bersama itu, iman dan takwa mereka bertumbuh, menyalakan obor pengabdian dan kecintaan pada Yang Maha Pengasih.

Di SMA Plus Muthahhari, kebersamaan dalam ibadah ini menjadi jalan untuk menanamkan kebiasaan positif, memperkuat kebiasaan yang kelak akan menjadi pondasi dalam kehidupan mereka. Langkah kecil ini melatih mereka untuk istiqamah dalam kebaikan, berkomitmen dalam kewajiban, dan tak goyah oleh godaan.

Lebih dari itu, setiap deretan shaf yang mereka bentuk menyatukan hati dalam ukhuwah. Mereka duduk berdampingan, berdoa dalam satu suara, merajut tali persaudaraan yang tak putus di antara mereka. Di sinilah ukhuwah itu tak hanya sebatas kata-kata, tetapi hadir sebagai wujud nyata, menciptakan iklim sekolah yang harmonis dan penuh kedamaian.

Shalat berjama’ah adalah pembelajaran tak tertulis tentang disiplin, sebuah janji untuk setia pada waktu yang mengalir. Di sini, tanggung jawab bukan sekadar aturan, melainkan menjadi landasan hidup yang dibawa hingga ke dunia akademis. Mereka belajar hadir di waktu yang sama, untuk tujuan yang sama – menghadap Ilahi, menciptakan ritme kedisiplinan dalam diri yang kelak akan menemani langkah-langkah mereka ke depan.

Tak hanya itu, berjama’ah menyemai sikap kebersamaan yang erat, menjalin persatuan di hati mereka. Rasa menyatu dalam ibadah yang sama menjadi pengingat bahwa dalam Islam, tiada yang lebih tinggi di mata Allah kecuali ketakwaan. Jiwa-jiwa muda ini tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka bagian dari umat yang satu, yang saling menyokong dan menguatkan.

Di antara mereka, ada yang bergiliran memimpin – menjadi imam yang memandu langkah shalat, menabur pelajaran tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Setiap kali mereka berdiri di depan, ada kepercayaan diri yang bertumbuh, menyertai keyakinan bahwa mereka mampu membimbing. Kepemimpinan ini bukan hanya dalam shalat, tapi mengakar dalam kepribadian mereka.

Shalat berjama’ah menjadi saat yang tepat bagi mereka untuk meredakan pikiran, meningkatkan konsentrasi, dan melepaskan penat setelah berjam-jam menghadapi pelajaran. Kehadiran dalam shalat seperti oase bagi jiwa mereka, memberikan energi baru untuk melanjutkan hari dengan pikiran yang tenang dan terarah.

Dalam kekhusyukan itu, mereka juga diajarkan nilai-nilai ketulusan dan kesabaran, belajar menghayati setiap gerakan dengan ikhlas, menerima kehadiran satu sama lain dalam kebersamaan yang tulus. Sabar dalam menunggu, dalam mengikuti, dan dalam berserah kepada Allah – inilah pelajaran hidup yang mereka dapatkan.

Di tengah kebersamaan ini, shalat berjama’ah menjadi panggilan lembut untuk saling mengajak dalam kebaikan. Di sinilah mereka saling mengingatkan, saling memotivasi, dan menguatkan rasa cinta pada kebenaran serta kewajiban agama.

Di SMA Plus Muthahhari, kebiasaan berjama’ah ini tak hanya melatih mereka secara pribadi, tetapi juga mewarnai sekolah dengan atmosfer religius yang menenangkan. Dalam lantunan doa-doa dan dzikir, karakter mereka terbentuk dengan akhlak mulia dan wawasan spiritual yang tinggi.

Ada keunikan dalam pelaksanaan shalat berjama’ah ini. Di sekolah ini, para siswa diberikan kebebasan untuk mengikuti mazhab fiqih yang diyakini, menghargai perbedaan dalam satu keindahan yang utuh. Divisi keagamaan turut mencatat kehadiran mereka dengan penuh perhatian, melaporkannya kepada orang tua sebagai wujud keterbukaan dan komitmen.

Tak hanya berhenti di sana, mereka mendawamkan sholawat dengan penuh ketulusan, dan setiap harinya, satu siswa bergiliran menyampaikan kultum tematik, berbagi ilmu dan inspirasi, menanamkan nilai-nilai luhur dalam hati teman-temannya.

Inilah keagungan yang terpancar dari shalat berjama’ah Zuhur di SMA Plus Muthahhari. Setiap doa yang terucap, setiap sujud yang dilakukan bersama-sama, dan setiap gerakan yang dilakukan dalam irama yang sama adalah jejak yang tak hanya menguatkan keimanan, tetapi juga membentuk karakter. Shalat berjama’ah ini adalah cermin kedekatan mereka pada Ilahi, mempersembahkan waktu terbaiknya bagi Sang Pencipta di tengah hari, dalam persatuan yang suci, dalam ketenangan yang mengakar dalam jiwa.

By: Akhi Moel
Kamis, 31/10/2024

Mari Bergabung dalam Melodi Kebhinekaan

Dengan sukacita, kami mengundang Bapak/Ibu Guru untuk hadir dalam perhelatan istimewa, Festival Panen Karya P5 yang mengangkat tema “Bhinneka Tunggal Ika: Menjadi Insan Indonesia yang Menghargai Perbedaan”.

Dalam panggung spesial ini, kami akan menyajikan perpaduan indah seni dan budaya yang akan menyentuh sanubari. Saksikanlah:

  1. Drama memukau: Sebuah kisah inspiratif yang menggambarkan keindahan persahabatan di tengah keberagaman agama dan mazhab.
  2. Film pendek: Tayangan visual yang menyuguhkan pelangi persahabatan dan semangat persatuan dalam keberagaman.
  3. Ekshibisi poster: Sebuah galeri warna-warni yang melukiskan keindahan toleransi dalam bingkai seni.

“Dalam pementasan ini, keindahan semesta terjalin sempurna. Mari kita saksikan dan rasakan denyut nadi Bhineka Tunggal Ika.”

Waktu: Selasa, 17 September 2024, pukul 07.30 WIB hingga selesai
Tempat: Halaman Sekolah SMA Plus Muthahhari, Jl. Kampus 2 No. 13-17, Babakan Sari, Kiaracondong, Kota Bandung

Hadirilah dan jadilah bagian dari perayaan keberagaman yang menginspirasi.
Mari bersama kita wujudkan Indonesia yang lebih bersatu dalam keberagaman.

Salam Bhinneka Tunggal Ika!

P5 di Sekolah Para Juara hari ke-1 & 2: Merajut Bineka dalam Jiwa Muda.

SMA Plus Muthahhari sudah dua hari menggelar sebuah kegiatan istimewa untuk kelas X-A dan X-B, sebuah simfoni harmoni perbedaan dalam proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Dengan tema “Bineka Tunggal Ika: Menjadi Insan Indonesia yang Menghargai Perbedaan”, sekolah ini berhasil merangkai sebuah pembelajaran inspiratif tentang keberagaman yang menyatu.

Di Aula KH. Jalaluddin Rakhmat, bulan September dan di hari yang cerah, para siswa diajak menyelami lautan keberagaman Indonesia. Melalui dokumenter memukau dan permainan edukatif yang renyah, mereka diajak memahami bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan sebuah kekayaan yang patut disyukuri.

Ibarat pelangi yang menghiasi langit, keberagaman hadir dalam berbagai bentuk: suku, agama, ras, budaya, dan pendapat. Dalam ruang kelas, para siswa saling berbagi cerita, pengalaman, dan perspektif yang unik. Mereka belajar untuk saling menghargai dan memahami, membangun jembatan di antara perbedaan.

Kegiatan ini tak hanya sekedar ceramah, namun juga sebuah pengalaman yang menggugah jiwa. Dengan semangat gotong royong, mereka menciptakan karya-karya yang indah, sebuah manifestasi dari semboyan “Bineka Tunggal Ika”.

Ibu Aya Sofia Martini, guru Sejarah, berhasil menebarkan benih-benih pemahaman tentang keberagaman melalui dokumenter yang menyentuh. Sementara itu, Bapak Adam Setiawan, guru Sosiologi, mengajak siswa untuk menggali lebih dalam makna keberagaman dalam kehidupan sehari-hari. Dan Ibu Helva Nurhidayah, guru Bahasa Indonesia, membimbing siswa untuk menyuarakan pesan-pesan positif tentang toleransi.

Semangat persatuan semakin berkobar ketika para siswa terlibat dalam berbagai aktivitas bersama. Mereka belajar untuk saling melengkapi, menghargai kontribusi masing-masing, dan membangun sebuah komunitas yang inklusif.

SMA Plus Muthahhari telah membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Melalui kegiatan P5 ini, para siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang lapang dan jiwa yang toleran. Mereka siap menjadi generasi penerus bangsa yang mampu menyatukan perbedaan dan membangun Indonesia yang lebih baik.

“Mari kita warisi semangat Almarhum KH. Jalaluddin Rakhmat Pendiri Yayasan Muthahhari dalam merajut persatuan, agar Indonesia tetap bersatu dalam keberagaman, bak sebuah mozaik indah yang tak terpisahkan.”

-akhimoel-
Bandung, 10 September 2024
Smuth “Sekolah Para Juara”

Harmoni Cinta dalam Syair Kenangan

oleh : Akhimoel

Aula KH. Jalaluddin Rakhmat menjadi saksi bisu atas sebuah perayaan syahdu, sebuah persembahan cinta dan penghormatan kepada sang penyejuk jiwa yang setiap katanya mengalir hikmah, Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat. Milad tahun ini terasa begitu istimewa, bak sebuah simfoni yang mengalun merdu, menggetarkan hati setiap insan yang hadir, tak terkecuali Ibu humas dan Ibu MC mengucur deras air matanya sehingga membungkam bibirnya untuk berkata-kata.

Hari itu, Rabu, 4 September 2024, suasana haru dan syukur menyelimuti seluruh civitas akademika SMA Plus Muthahhari. Tadarus Al-Quran 30 juz yang khusyuk membacakan ayat-ayat suci seolah menjadi pembuka gerbang menuju keagungan Ilahi. Doa tahlil dan gema sholawat yang dipimpin oleh para ustadz pun menggema syahdu, mengundang turunnya rahmat Allah SWT dan keberkahan Rasulullah.

Layar lebar menyajikan video inspiratif yang menampilkan sosok Allahyarham, menggugah kembali ingatan akan pribadi yang penuh kasih dan hikmah. Kata sambutan dari Kepala Sekolah dan Yayasan seakan menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini, menguatkan semangat untuk terus menerus meneladani jejak langkah sang maha guru.

Alunan merdu lagu-lagu ciptaan Allahyarham yang dibawakan dengan penuh perasaan semakin menghangatkan suasana. Syair-syair indah itu seakan berbisik, mengisahkan perjalanan spiritual seorang hamba yang senantiasa merindukan Sang Pencipta.

Puncak acara adalah majelis ilmu yang disampaikan oleh KH. Miftah Fauzi Rakhmat. Dengan bahasa yang lugas dan penuh hikmah, beliau mengajak seluruh hadirin untuk meneladani cinta yang tulus sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Allahyarham.

Doa ziarah Nabi dan munajat Ahlul Bait yang dipimpin oleh Ust. Ali Alaydrus seolah menjadi penutup yang sempurna. Sholat Dhuhur berjamaah pun dilaksanakan dengan khusyuk, menyatukan hati dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

Di penghujung acara, seluruh guru dan murid menikmati hidangan tumpeng bersama dalam suasana penuh kegembiraan. Tawa dan canda para murid menjadi pelengkap keindahan hari itu, menggambarkan betapa besar pengaruh Allahyarham dalam membentuk generasi muda yang berkarakter.

Milad Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat bukanlah sekadar peringatan hari lahir, melainkan sebuah perayaan atas perjalanan panjang seorang sufi, pemikir dan pencerah dalam menyebarkan cahaya Islam. Semoga semangat dan nilai-nilai luhur yang beliau wariskan terus hidup di dalam hati kita semua.

Mari hantarkan doa terbaik kita untuk Maha Guru tercinta Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat bin Rakhmat Syuja’i & Ibunda Hajjah Euis Kartini binti Iri Suhanda. Al Fatihah tasbiquhas shalawat.

Akhimoel
Jalanrahmat.id

MPLS tahun ajaran 2024-2025

SELAMAT DATANG Para Kafilah Ruhani di Sekolah Para Juara

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan momen penting bagi siswa baru untuk memulai petualangan baru di jenjang pendidikan selanjutnya. MPLS Tahun Ajaran 2024-2025 yang akan segera dilaksanakan membawa semangat baru untuk menyambut para siswa baru dengan penuh gembira dan hangat.

Kemendikbudristek telah mengeluarkan panduan terbaru terkait pelaksanaan MPLS yang menekankan pada kegiatan edukatif dan kreatif. Hal ini sejalan dengan tujuan MPLS untuk membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru, mengenal visi dan misi sekolah, serta menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap sekolah.

Beragam Kegiatan Menarik di MPLS 2024-2025

MPLS tahun ini diharapkan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan bagi para siswa baru. Sekolah di SMA Plus Muthahhari menyelenggarakan berbagai kegiatan menarik untuk menyambut para siswanya. Berikut beberapa kegiatan yang dilaksanakan:

  • Wawasan Alamamater & visi, misi : Di sesi ini, siswa akan mendapatkan informasi tentang tujuan sekolah, kurikulum yang diterapkan, serta berbagai program unggulan yang ditawarkan.
  • Brain base learning + Multiple Intelegensis: Penggabungan BBL dan MI dalam proses pembelajaran dapat menghasilkan beberapa manfaat, di antaranya:
    • Meningkatkan motivasi dan keterlibatan belajar: Siswa akan lebih termotivasi untuk belajar ketika mereka dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka.
    • Meningkatkan pemahaman dan retensi informasi: Siswa akan lebih mudah memahami dan mengingat informasi ketika mereka belajar dengan cara yang multisensori dan melibatkan berbagai kecerdasan mereka.
    • Mengembangkan bakat dan potensi siswa: Siswa akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka secara maksimal ketika mereka belajar dengan cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka.
    • Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif: BBL dan MI dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif di mana semua siswa merasa diterima dan dihargai.
  • Organisasi Sekolah : Memperkenalkan organisasi-organisasi yang ada seperti OSIS, MPK dan PMR SMUTH. Kegiatan ini memiliki banyak keuntungan bagi para siswa, baik dalam aspek akademik, non-akademik, maupun pengembangan diri secara keseluruhan.
  • Pentas Seni dan Budaya : Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menunjukkan bakat dan kreatifitas mereka, sekaligus memperkenalkan budaya sekolah.

MPLS 2024-2025: Awal yang Tepat untuk Masa Depan Gemilang

Melalui MPLS yang edukatif dan kreatif, diharapkan para siswa baru dapat memulai jenjang pendidikan mereka dengan penuh semangat dan motivasi. MPLS menjadi awal yang tepat untuk mengantarkan generasi penerus bangsa menuju masa depan yang gemilang.

PESANTREN RAMADHAN 2024

Pada bulan Ramadhan terdapat berbagai keutamaan sehingga kehadiran bulan Ramadhan selalu dinanti.
Salah satunya adalah bulan diturunkan Al Quran.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya,

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)….” (Al-Baqarah, 185:2)

Nah agar murid-murid dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT maka SMA Plus Muthahhari mengadakan Pesantren Ramadhan.

Tujuan Pesantren Ramadhan selanjutnya adalah meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam. Pesantren Ramadhan perlu dilakukan agar nantinya murid-murid dapat menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Pada acara puncak hari terakhir agenda pesantren Ramadhan 2024, untuk menumbuhkan sikap empati dan toleran murid-murid, SMA Plus Muthahhari mengadakan kegiatan Bakti sosial ke berbagai tempat di Bandung.
Diantaranya ke Panti (jompo) Wredha Budi Pertiwi, ke SPLB-C YPLB dan ke Gereja Taman Cibunut Bandung. Diharapkan melalui kegiatan ini murid-murid SMA Plus Muthahhari semakin bersyukur, semakin mencintai juga menghormati sesama manusia dan belajar menghargai perbedaan.

Pada malam harinya murid SMU Muthahhari melaksanakan Malam Bina Taqwa yang diisi dengan berbagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada waktu Sahur, para siswa bersilaturahmi dengan warga lingkungan sekolah di jalan Kampus kelurahan Babakansari dan sekitarnya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah agar murid-murid memiliki rasa empati dan bisa dekat dengan warga di lingkungan sekolah.
Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” diharapkan murid-murid SMA Plus Muthahhari memiliki rasa empati dan jiwa sosial yang tinggi serta peduli lingkungan sekitar.

Semoga pesantren Bulan Ramadhan tahun ini menjadi berkah buat semua.

Ujian Praktek: Mengoptimalkan Persiapan dan Strategi untuk Kesuksesan

Ujian praktek merupakan salah satu bagian penting dalam sistem evaluasi pendidikan di SMA Plus Muthahhari. Sebagai bentuk pengukuran kemampuan praktis siswa dalam menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, ujian praktek memiliki peran yang krusial dalam menilai keterampilan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia kerja.

Persiapan yang Efektif untuk Ujian Praktek

  1. Memahami Materi yang Diuji

Langkah awal yang penting dalam mempersiapkan ujian praktek adalah memahami dengan baik materi yang akan diuji. Siswa perlu mempelajari secara teliti setiap konsep dan prinsip dasar yang terkait dengan ujian tersebut untuk memastikan pemahaman yang mendalam.

  • Latihan Praktik Secara Berkala

Praktek adalah kunci dalam meningkatkan keterampilan. Siswa perlu melakukan latihan praktik secara berkala untuk mengasah kemampuan dalam menerapkan pengetahuan teoritis menjadi praktik yang nyata. Latihan ini dapat dilakukan di sekolah atau pun di rumah dengan bimbingan guru atau orang tua.

  • Mengikuti Bimbingan dan Pelatihan Tambahan

Bimbingan dan pelatihan tambahan dari guru atau lembaga pendidikan non-formal juga dapat membantu meningkatkan persiapan siswa untuk menghadapi ujian praktek. Dengan mendapatkan arahan dan panduan langsung, siswa akan lebih siap menghadapi situasi praktik yang sebenarnya.

Strategi Menghadapi Ujian Praktek

  1. Mengelola Waktu dengan Baik

Waktu yang diberikan dalam ujian praktek biasanya terbatas, oleh karena itu siswa perlu mampu mengelola waktu dengan baik. Prioritaskan tugas-tugas yang lebih penting dan alokasikan waktu secara proporsional untuk setiap bagian ujian.

  • Berfokus pada Instruksi

Saat menjalani ujian praktek, pastikan untuk memahami dengan baik instruksi yang diberikan. Fokuslah pada tugas yang diminta dan lakukan dengan cermat sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan.

  • Berkomunikasi dengan Jelas dan Efektif

Dalam beberapa ujian praktek, kemampuan berkomunikasi juga menjadi faktor penilaian. Pastikan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif saat menjalankan tugas praktik, baik dalam hal menjelaskan prosedur maupun berinteraksi dengan pihak lain yang terlibat.

Ujian praktek SMA merupakan bagian integral dalam proses evaluasi pendidikan yang mengukur kemampuan praktis siswa. Dengan persiapan yang matang dan penerapan strategi yang tepat, diharapkan siswa dapat menghadapi ujian praktek dengan percaya diri dan meraih kesuksesan yang optimal.

SWC Melatih Siswa Mandiri dan Empati

SWC Melatih Siswa Mandiri dan Empati

Spiritual Work Camp – SWC (Perkemahan Pengabdian Ruhaniah) yang ditujukan bagi murid kelas XI untuk menumbuhkan dan meningkatkan empati para murid kepada orang-orang yang kurang beruntung. Kegiatan ini berupa pengabdian kepada masyarakat dengan cara para murid ikut hidup, tinggal dan berkegiatan bersama dengan masyarakat yang kurang beruntung tersebut.

Menjawab Isu Tentang Sekolah Muthahhari

[by Miftah F. Rakhmat]

Beredar isu macam-macam tentang sekolah-sekolah Muthahhari. Ada yang tanya bahwa anak-anak di Muthahhari shalatnya ketika rukuk, mereka lakukan sambil berputar. Ada lagi yang bilang, shalatnya bisa sambil minum. Ada juga yang mengatakan anak-anak Muthahhari tak shalat Ashar. Semua keliru. Semua isu. Datang saja ke Sekolah dan lihat sendiri kenyataannya, ketimbang mendengar kabar dari sini dan sana. “Seorang ayah menulis surat untuk anaknya: Anakku sayang, kapan pun surat ini datang, ia datang pada saat yang tepat. Tak pernah ada kata terlambat. Kapan pun kau membacanya, ia ada pada waktu yang sempurna.

Sungguh, semua yang hadir itu indah karena Sang Mahaindah yang telah menghadirkannya. Semua yang kaulihat sempurna, karena Sang Mahasempurna yang telah menciptakannya.
Tak ada satu pun yang kurang, tak ada satu pun yang cacat, kecuali kita yang mengubah nikmat dengan kesalahan yang kita perbuat. Tapi bahkan salah itu pun kebaikan. Dengannya kau mengenal ampunan. Karenanya kau merindu kasih dan sayang.

Karena itu bersyukurlah, hingga kelu lisanmu menggumamkannya. Bersyukurlah hingga kau tak lagi tahu bagaimana menyampaikannya. Hindarilah menghakimi sesama, karena ia punya penciptanya. Jangan sampai menghujat, hanya karena kau tak sanggup berbuat.

Mengapa kau terlahir dari kami, karena kamilah ujianmu menempuh jalan. Mengapa kau hadir bagi kami, karena kaulah ujian kami menuju kesempurnaan. Mengapa kau punya sesuatu dan yang lain tidak? Mengapa yang lain tidak punya apa yang ada dalam dirimu…semua karena Sang Pencipta punya sentuhan khas bagi tiap jiwa. Karena semua kita dicintainya. Karena semua kita istimewa. Semua kita sempurna…”

Pengantar di atas dikutip dari buku terbaru saya, Risalah Anak Berlari. Ketika kuliah di Australia, saya mengambil major Professional Writing and Editing. Mungkin satu-satunya orang Indonesia. Bahkan saya jadi satu-satunya orang Asia non imigran di kelas saya. Jurusan ini kurang populer dibanding bisnis, informatika, atau perhotelan/perkulineran yang ramai diminati. Saya jadi—dalam istilah anak-anak muda sekarang–anti mainstream.

Kata yang tepat untuk itu sebenarnya adalah “non mainstream”. Istilah itu digunakan untuk penentang kemapanan atau untuk sesuatu yang berbeda. Pernah ke Yayasan Muthahhari, datang seorang peneliti Departemen Agama. Ia masuk dengan kikuk. Ia risih untuk bicara. Mengapa? Karena ia ditugaskan kantornya untuk meneliti—dalam bahasa dia—kelompok-kelompok keagamaan “non mainstream.”

Ia memulainya dengan meminta maaf. Padahal, ia belum berbuat apa-apa. Rasa kikuk itu pertanda bahwa fitrah kita sebenarnya adalah fitrah yang toleran, yang menghargai perbedaan, yang memandangnya sebagai kekayaan khazanah Tuhan. Manusia memang terlahir dari lingkungan yang tak sama, tetapi manakala kita mempertanyakan perbedaan itu, muncul rasa ketidaknyamanan, dorongan untuk menghargai pilihan yang telah diambil seseorang. Seperti yang dirasakan kawan peneliti dari—kini—Kementerian Agama itu.

“Pak, maaf, saya ditugaskan untuk meneliti kelompok-kelompok Islam non mainstream.” Ujarnya terlihat kikuk. Saya sudah paham maksudnya. Saya sudah biasa mendengarnya. Setiap tahun pendaftaran di Sekolah-sekolah Muthahhari, selalu saja ada yang bertanya tentang itu. Setelah seluruh penjelasan tentang sekolah, setelah seluruh pembicaraan tentang metode pembelajaran, keistimewaan dan keunikan, ada pertanyaan terakhir yang tersisa. Ritualnya, diawali dengan empat kata itu: “Maaf ya Pak, maaf…” dan kami selalu tersenyum menerimanya.

Saya berusaha mencairkan suasana, tapi pada saat yang sama, saya ingin menikmatinya. Saya bertanya, “Apa yang Bapak maksudkan non mainstream?”

“Yaa…kelompok Islam yang berbeda dengan kebanyakan…” masih perlahan jawabnya.

“Maksud Bapak dengan berbeda?” tanya saya mengejar.

“Yaa…ada yang diamalkan di sini yang tidak dilakukan di tempat yang lain.”

“Misalnya Pak?”

“Hmm…misalnya di sini ada majelis baca doa setiap bulan.”

“Lho Pak, bukankah itu bagus. Kami membaca Yasin dan doa-doa. Anak-anak SMA hanya membaca sebulan sekali, dari bakda Isya hingga kira-kira jam sepuluh. Anak-anak SMP seminggu sekali di waktu shalat Zhuhur berjamaah. Anak-anak SD malah belum ada acara doa bersama rutinan. Itu pun anak SMA masih memandangnya sebagai kewajiban. Di Tasik, ada pesantren, sebulan sekali anak-anaknya wiridan semalam suntuk.”

“Mungkin, karena di sini memperingati Asyura?” Akhirnya ia mulai menukik ke pokok persoalan.

“Pak, Asyura bukan tradisi baru, juga bukan hanya kami. Di Sumatera Barat, di Bengkulu ramai diselenggarakan prosesi Tabut, tabot, tabuik untuk mengenang peristiwa itu. Orang Jawa memendekkannya dan menyebut bulan itu, bulan Suro. Di Sulawesi ada tradisinya, di Cirebon, Yogya dan sebagainya. Kami memperingati Asyura sebagai upaya kami untuk mencintai Rasulullah Saw. Sesuai semangat: berbahagialah dengan kebahagiaan saudaramu. Berdukalah dengan penderitaan saudaramu.”

Kawan peneliti ini kebingungan. Ia ingin menyampaikan kata ‘keramat’ itu. Sepertinya sudah ada di ujung lidahnya. Tapi ia masih kurang nyaman. Katanya kemudian, “Mungkin karena di sini shalatnya dijamak?”

“Nah kalau itu, bisa saya jawab Pak. Beredar isu macam-macam tentang sekolah-sekolah Muthahhari. Ada yang tanya bahwa anak-anak di Muthahhari shalatnya ketika rukuk, mereka lakukan sambil berputar. Ada lagi yang bilang, shalatnya bisa sambil minum. Ada juga yang mengatakan anak-anak Muthahhari tak shalat Ashar. Semua keliru. Semua isu. Datang saja ke Sekolah dan lihat sendiri kenyataannya, ketimbang mendengar kabar dari sini dan sana. Yang terakhir mungkin ada benarnya, untuk anak-anak SD dan SMP. Bukan karena mereka tidak shalat Ashar. Tapi karena mereka tidak shalat Ashar di sekolah. Mereka pulang jam dua siang. Sebelum waktu shalat Ashar. Hanya anak SMA yang shalat Ashar di Sekolah, dijamak dengan shalat Zhuhur. Itu pun hanya beberapa hari saja. Rabu dan Jumat mereka tetap shalat Zhuhur dan Jumatan dan mengakhirkan shalat Ashar. Dan itu dibolehkan. Dalilnya banyak. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim pun ada, ayatnya pun dipertanggungjawabkan… anak-anak belajar kekayaan pengamalan keberagamaan, Pak.” Jawab saya panjang.

Akhirnya…masih dalam suara yang pelan ia berkata, mengeluarkan kata yang dianggap berat itu. “Katanya di sini…minoritas…Syiah.” Disampaikanlah apa yang dimaksudkannya…Syiah dianggap non mainstream. Syiah dianggap berbeda dengan kebanyakan.

Saya tidak akan teruskan pembicaraan dengan kawan dari Kemenag itu. Saya akan bicara tentang Syiah saja. Tentang kawan peneliti itu, kami jadi berteman baik. Dia kini staf pengajar di sebuah Universitas di jalan Gatot Soebroto, Jakarta. Tahun lalu, ia datang lagi ke sekolah. Bulan lalu, ia undang saya seminar di kampusnya.

Saya akan lanjutkan bicara tentang Syiah saja. Tentang satu kata yang menggemparkan, menggentarkan, tentang satu kata yang dianggap menakutkan itu. Mengapa saya memilih kata-kata ‘gempar, gentar, dan takut.’? Karena konon, beredar isu kalau orang Syiah dibiarkan di Indonesia akan terjadi kerusakan, kesewenang-wenangan, bahkan yang mengerikan, akan terjadi perang saudara. Masya Allah wa na’udzu billah…

Di beberapa majelis pengajian, dibicarakan tentang Syiah. Diputarkan VCD lalu diperlihatkan hal-hal yang aneh-aneh, kemudian ditutup dengan kalimat, “Nah, hati-hati. Sekolah-sekolahnya ada di Bandung. Apa Ibu dan Bapak mau memasukkan anak ke sekolah seperti itu?” Di khutbah Jumat, Syiah digugat. Anak-anak yang mau mendaftar ke sekolah-sekolah kami ditakut-takuti. Bahkan ada pengajian di pusat pemerintahan yang juga menjelek-jelekkan sekolah-sekolah Muthahhari. Saya biasanya menjawab singkat (tapi jadi panjang kalau dituliskan).

Pertama, sekolah-sekolah Muthahhari itu punya pembinanya, ada atasan dan pengawasnya. Siapa? Orangtua-orangtua kami di Dinas Pendidikan. Bukankah ada pengawas yang rutin berkunjung? Ada pengawas Pendidikan Agama Islam yang rajin memantau. Ada akreditasi dan supervisi untuk menilai kinerja kami. Sekiranya ada yang aneh tentang Sekolah kami, mungkinkah Dinas membiarkannya tanpa mengawasi? Masyarakat juga tak heboh dengan kami, padalah sudah lebih dari duapuluh tahun kami hadir berbakti. SMA berdiri tahun 1992, bahkan dapat prestasi beberapa kali jadi Sekolah model, termasuk jadi Sekolah Percontohan untuk Pengembangan Budi Pekerti tingkat Nasional tahun 2003. Bagaimana mungkin sekolah aneh diangkat jadi sekolah model untuk pengembangan akhlak? Anak-anak SMA sudah begitu banyak berprestasi, mulai kompetisi dalam negeri hingga jadi duta budaya Indonesia di luar negeri. SMP Muthahhari di Rancaekek berdiri tahun 1997, gratis sejak dulu sebagai sumbangsih untuk masyarakat sekitar, dan menghasilkan anak-anak yang lulus 100 persen setiap pelaksanaan ujian nasional. Dinas Pendidikan setempat bahkan sering rapat di sekolah kami. SD Muthahhari yang di Bandung baru meluluskan dua angkatan, tapi sudah diakreditasi dan dapat ujian mandiri. Gedung dan tanah sudah milik sendiri. Akreditasi perdana, nilai kami 95 (dari 100), prestasi tersendiri. Anak-anak kami tersebar di berbagai sekolah swasta dan negeri. Ada juga yang lanjut ke luar negeri, dengan segudang prestasi. SMP Bahtera yang baru berdiri empat tahun lalu, juga kini sudah diakreditasi. Peringkat A pula. Dan kini mulai mencicil prestasi.

Nah, bagaimana mungkin semua torehan prestasi itu terjadi tanpa bimbingan dan dukungan dari sesepuh kami di Dinas Pendidikan, dari Ibu dan Bapak pengawas, dari Ibu dan Bapak Kepala Sekolah, Kepala Gugus, Rayon, Sub Rayon dan sebagainya. Ini prestasi dan kerja keras bersama. Menafikan Sekolah-sekolah Muthahhari artinya mempertanyakan kesungguhan dan dedikasi para pendidik, juga mempertanyakan supervisi yang dilakukan oleh Pemerintah selama ini.

Jawaban itu sebenarnya cukup, tapi kadang-kadang masih dirasa kurang. Masih saja tersisa pertanyaan: Kalau Syiah sendiri bagaimana? Maka perlulah saya menjelaskan yang kedua.

Syiah itu mazhab kedua terbesar dalam Islam. Menurut wikipedia, sekitar 20 persen umat Islam dunia bermazhab Syiah. Di Timur Tengah sendiri ada 40-an persen pengikutnya, tersebar di semua negara sejak Saudi hingga Iran. Mereka rukun bersaudara. Orang Syiah shalat lima kali sehari, puasa di bulan suci, membayar zakat, dan berhaji ke Baitullah. Tidak pernah ada larangan bagi orang Syiah untuk berhaji ke tanah suci. Di Madinah dan Makkah, kita akan bersua dengan mereka. Selesai perkara. Kalau masih belum cukup juga, Iran sebagai negara mayoritas Syiah terbesar di dunia, mendaftarkan nama resmi negaranya pasca referendum 1979 di Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai: Republik Islam Iran. Kalau Iran—yang mayoritas Syiah itu—bukan Islam, tidakkah mestinya negara-negara Islam protes pada dunia, karena nama Islam sudah ‘dicatut’ oleh yang bukan penganutnya?

Saya sudah tutup buku perkara mazhab ini. Bagi saya, Sunni dan Syiah adalah dua khazanah Islam, dua sayap umat yang sama-sama saling menguatkan. Untuk itulah saya menulis buku Kidung Angklung, sebuah upaya untuk merekatkan persaudaraan di antara sesama. Untuk mengenal lebih baik lagi. Seperti kata Duta Besar Indonesia di Iran, “Tak kenal memang tak akan sayang.”

Sayangnya, sepertinya ada pihak-pihak yang tak ingin Indonesia maju, tak ingin Indonesia berkembang. Kata Dr. Herbert Feith, dosen ayah saya waktu di Australia, “Tak ada yang dapat membawa bangsa (Indonesia) ini besar, selain umat Islamnya. Dan tak ada yang dapat membuat bangsa ini lemah kecuali umat Islamnya juga. Yaitu kalau mereka berselisih di antara sesama.”

Apa hubungannya dengan Muthahhari? Sekolah-sekolah Muthahhari begitu gencar ‘diserang’ isu itu. Apa pasal? Karena kami memilih untuk jadi jembatan. Untuk mempertemukan ragam keilmuan Islam yang kaya itu. Di Sekolah tidak diajarkan Syiah. Silakan cek kurikulumnya. Silakan tanya murid-murid, orangtua, dan guru-gurunya. Tapi yang kami ajarkan toleransi, penghormatan pada perbedaan, dan sikap untuk menghargai pendapat yang lain. Kalaupun ada yang dekat dengan keSyiahan itu adalah kecintaan kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. Dan itu bukan milik orang Syiah. Keluarga Nabi adalah khazanah kemuliaan kaum Muslimin. Siapa pun boleh berguru kepada mereka. Siapa pun dapat menjadikan mereka teladan. Kata Imam Syafi’i, guru besar Mazhab Sunni Syafi’i di dunia, “Kalaulah disebut dosa, mencintai keluarga Nabi. Maka itulah satu-satunya dosa, yang takkan kuminta untuk diampuni.” Masya Allah!

Lalu mengapa judul tulisan ini mediocrity? Nah, ini latar belakangnya. Medioker—begitu di-Indonesiakan—artinya “rata-rata, pertengahan, kebanyakan, biasa-biasa saja…dan semisalnya.” Kamus Besar Bahasa Indonesia belum memasukkannya jadi bahasa kita. Secara singkat, kita ingin membuat orang lain sama dengan kita, atau kita sama dengan mereka. Kita belum terbiasa memposisikan setiap jiwa istimewa. Dalam keberagamaan, kita ingin orang lain sependapat dengan kita. Dalam pendidikan, kita ingin anak-anak samadengan teman-temannya yang lain. Untuk itulah dibuat standar kompetensi (yang sebetulnya minimal) menjadi capaian (yang dikonsepkan maksimal). Kita akan selalu membandingkan anak-anak kita dengan gelombang besar teman-temannya yang lainnya. Untuk itu dibuat rata-rata. Setengah anak-anak dibahagiakan (karena berada di atasnya), setengahnya lagi dikecewakan (karena pasti di bawahnya). Alih-alih memusatkan diri pada kelebihan, kita ingin anak-anak menyusul kekurangan mereka dari rata-rata teman-temannya.

Rata-rata itu mediocrity. Orang kebanyakan. Nah, Sekolah harus meyakini satu konsep filosofis dalam Islam yang saya pelajari dari Allamah Thabathaba’i penulis tafsir Mizan yang terkenal itu, yaitu “al-katsaratu fil wahdah, wa al-wahdatu fil katsrah.” Satu dalam jamak, dan jamak dalam satu. Yang kedua itu, bhinneka tunggal ika, kita warisi dari para pendahulu kita: berbeda-beda tetapi satu juga.

Sekolah harus dapat menonjolkan potensi, minat, dan bakat istimewa yang sudah Tuhan titipkan secara khusus dalam setiap jiwa. Tanda kasih dan cinta Tuhan. Istimewa artinya berbeda, unik, khas, tanpa memandangnya lebih baik dari yang lainnya. Di sisi lain, seluruh sentuhan khas dalam tiap jiwa itu juga dibingkai oleh kebersamaan yang rata-rata. Apa itu? Penghargaan, apresiasi pada setiap perbedaan itu. Kita boleh berbeda, tapi kita sama dalam memaknai perbedaan itu. Kita boleh tak sama, tapi kita sama dalam menghormati sentuhan Tuhan dalam setiap jiwa itu.

Mediocrity yang kedua adalah pada tataran nilai. Kita boleh dan wajib sama dalam memandang nilai-nilai luhur yang universal, tapi kita juga berbeda dalam melejitkan setiap nilai itu menuju puncak kesempurnaan setinggi-tingginya. Maksud saya, kita semua menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, persaudaraan, persatuan, penghormatan, kejujuran, keterbukaan, dan nilai-nilai lainnya. Tapi bagaimana menerapkannya adalah proses yang tak mengenal tepi. Di antara prinsip itu adalah perjuangan menjaga nurani dan kesadaran yang tak tercermarkan. Mengutip Pramoedya Anata Toer, “Berbuat adil, harus sejak dalam pikiran.”

Saya percaya keluarga besar Muthahhari akan menjadi agen-agen perubahan itu, yang adil sejak dalam pikiran. Mereka akan menjadi garda terdepan dalam upaya mempertahankan kesatuan, persatuan, dan persaudaraan. Sendi-sendi bangsa besar ini akan rubuh, manakala kita begitu rentan didera isu yang sebenarnya rapuh. ***

Miftah F. Rakhmat, Ketua Yayasan Muthahhari Bandung
https://www.altanwir.net/buletin/menjawab-isu-sekolah-muthahhari-dan-mediocrity-ust-miftah-f-rakhmat