Rancaekek, Kabupaten Bandung — Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan resmi dan berdialog langsung dengan murid SMA Plus Muthahhari dalam gelaran AI Ready ASEAN Workshop yang diselenggarakan di SMP Plus Muthahhari (Jl. Lembanggede No. 69, Sangiang, Kec. Rancaekek, Kab. Bandung), pada Rabu (4/3/2026).
Praktik Nyata Literasi Digital
Di era ekonomi digital, literasi teknologi bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan praktik nyata yang harus dikuasai di lapangan. Melalui inisiatif ini, ratusan murid kami mendapatkan kesempatan belajar langsung mengenai pemanfaatan sekaligus etika penggunaan kecerdasan artifisial (AI).
Program ini mendapat dukungan penuh dari ekosistem teknologi global melalui kolaborasi strategis antara ASEAN Foundation dan Google.org. Dalam momen interaksi tersebut, murid SMA Plus Muthahhari membuktikan kapasitas nalar kritisnya saat berdialog langsung dengan pimpinan negara, menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan talenta yang siap menghadapi tantangan zaman.
Momen interaksi murid SMA Plus Muthahhari dengan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, membahas isu strategis pemanfaatan kecerdasan artifisial.
Apresiasi atas Dukungan Nasional dan Global
Keluarga Besar Yayasan Muthahhari mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kunjungan dan dukungan penuh pada penyelenggaraan AI Ready ASEAN Workshop di lingkungan sekolah kami.
Bapak Gibran Rakabuming Raka (Wakil Presiden Republik Indonesia)
Bapak Piti Srisangnam (Direktur Eksekutif ASEAN Foundation)
Bapak Erwan Setiawan (Wakil Gubernur Jawa Barat)
Bapak Dadang Supriatna (Bupati Bandung)
Kehadiran jajaran pimpinan negara dan tokoh global di sekolah kami adalah wujud nyata komitmen bersama dalam membangun literasi teknologi bagi generasi masa depan. Kami mendidik talenta yang tidak gagap teknologi dan memiliki integritas.
Oleh: K.H. Miftah F. Rakhmat, Lc., M.A. (Pembina Yayasan Muthahhari)
Allah yarham Ayahanda tercinta pernah berkata, “Muthahhari Students never cease to amaze me!” Anak-anak sekolah tidak pernah berhenti membuat beliau takjub. Beliau kagum dengan potensi dan semangat anak-anak muda yang tanpa batas. Seakan bintang itu sedang bersinar terang di atas dahi mereka, dan memang demikianlah nyatanya! Anak-anak muda dan puncak potensi kebugaran mereka, lahir dan batin. Kata syair Abu ‘Atahiyah “Fa ya laitas syababu ya’udu yawma.” Andai satu hari, masa muda itu kembali. Bersyukurlah dalam setiap keadaan, alhamdulillah.
Betapa tidak, kemarin anak-anak SMA Plus Muthahhari mempertontokan semangat, vitalitas, dan potensi tak terbatas itu. Saya teringat ucapan Allah yarham karena mengetahui apa yang mereka lakukan dalam sebulan terakhir. Bayangkan, mereka sukses menggelar perhelatan Simulasi Konferensi Asia Afrika akhir Januari lalu. Tidak mudah menanamkan kesadaran sejarah pada anak-anak Gen Z, maka Sekolah menghadirkannya melalui program keren bernama Simulasi KAA. Sederhananya, mereka mereka-ulang peristiwa tahun 1955 itu dengan menghadirkan beberapa delegasi dari berbagai negara. Anak-anak mengubah aula sekolah menjadi Gedung Merdeka. Mereka tampil dengan berbagai bahasa. Tidak lupa pula para pemeran ‘cosplay’ tokoh-tokoh sejarah. Pesan Bung Karno digaungkan kembali. Sebuah pergelaran yang tidak mudah. Kesadaran sejarah ini ditambahkan dengan menggelorakan dan menyuarakan pesan untuk kemerdekaan Palestina. Semua negara peserta Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 sudah merdeka, kecuali Palestina. Sebuah upaya menghidupkan terus perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.
Foto bersama peserta dan panitia Simulasi Konferensi Asia Afrika (KAA).
Setelah acara Simulasi KAA sukses digelar, anak-anak bergabung dalam tradisi sekolah berikutnya yaitu menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Mereka belajar mengisi malam dengan ibadah, dengan shalat, doa dan munajat. Dan selalu, doa untuk Palestina dan negeri tercinta dipanjatkan. Besoknya, mereka rehat sehari.
Dokumentasi kegiatan ibadah malam Nisfu Sya’ban.
Nah, ini dia. Di sini saya keliru. Saya mengira mereka rehat. Ternyata mereka sibuk persiapan, sibuk gladi, sibuk sana sini. Hanya selang sehari setelah kegiatan menghidupkan malam dengan doa, mereka menggelar perhelatan berikutnya: Soracipta 2026. Sebuah karya persembahan yang dikembangkan dari Akbari, Ajang Kreasi Barudak Muthahhari. Pada momen yang juga disebut Expo ini anak-anak mempertunjukkan kebolehan mereka dalam berbagai bidang: bahasa, seni, fotografi, literasi IT, digital art yang semuanya dikemas dalam sebuah seni pertunjukan. Tentu ini tak mudah. Tentu mereka berlatih di sela-sela rutinitas harian. Tentu ada tim guru dan orang-orang di balik layar yang mendukung kesuksesan. Dan tentu ada semangat anak muda yang menyala bak api di Ijen, Mrapen atau Azerbaijan. Mereka menggabungkan semuanya. Kesadaran sejarah, haru dalam ibadah, dan ungkap syukur atas karunia Allah Swt bakat yang khas ada pada diri mereka. Dan kemampuan mengorganisir semuanya. Salut! Soracipta 2026 yang menghidupkan kearifan lokal Kabayan Iteung di tengah arus zaman dikemas amat apik oleh anak-anak dan para guru sutradara di balik layar.
Dokumentasi kegiatan Soracipta 2026 / Expo.
Saya berdecak kagum, seraya memanjatkan syukur. Terima kasih ya Allah, terhantar doa untuk keberhasilan mereka, untuk masa depan mereka, untuk semangat dan cita-cita. Kiranya cahaya itu akan terus bersinar, memberikan terangnya pada dunia dan hangat kasih untuk sesama.
Terima kasih para guru, orangtua, dan anak-anak semua. Sungguh, nikmat yang tak dapat kami tunaikan hak syukurnya.
Di tengah gegap gempita Kecerdasan Buatan (AI), banyak institusi pendidikan berlomba mengadopsi teknologi. Namun, ada sebuah pertanyaan fundamental yang sering terlupakan: di saat kita sibuk menyiapkan kecerdasan buatan, siapa yang menyiapkan kekuatan mental anak-anak kita?
“Foto Bersama Perwakilan Kerajaan Brunei Darussalam”
Iis Rosilah, S.Pd.I, seorang pendidik dari Yayasan Muthahhari Bandung yang juga merupakan mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menjadi perwakilan Indonesia yang menyuarakan gagasan penting di panggung pendidikan internasional. Dalam ajang International Conference ICON IMAD XIV yang berlangsung di Brunei Darussalam pada 6-8 Oktober 2025, beliau memaparkan hasil studi risetnya mengenai tiga pilar krusial untuk masa depan pendidikan menghadapi era digital: keseimbangan antara literasi Kecerdasan Buatan (AI), penguatan kesehatan mental murid, dan penanaman nilai-nilai Islam sebagai fondasi karakter. Ini bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang telah diimplementasikan.
Alarm Darurat: Krisis Kesehatan Mental Mengintai Generasi Digital
Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami skala masalahnya. Iis Rosilah, memaparkan data yang mengkhawatirkan dalam International Conference ICON IMAD XIV di Brunei Darussalam.
Statistik Global: Riset menunjukkan 1 dari 10 anak memiliki masalah kesehatan mental, dan 40% di antaranya dimulai bahkan sebelum anak berusia 4 tahun.
Kondisi Indonesia: Situasinya tidak lebih baik. Dua dari tiga anak Indonesia (usia 13-17 tahun) mengaku pernah mengalami kekerasan. Lebih lanjut, 41% siswa melaporkan pernah menjadi korban perundungan (bullying).
Pemicu Kompleks: Wawancara dengan praktisi seperti Fatimiyah Counseling Services mengungkap akar masalahnya, mulai dari bullying, body shaming, tekanan orang tua, hingga dampak negatif kecanduan internet dan AI.
Data ini adalah sinyal darurat. Mengejar kemajuan teknologi tanpa membangun sistem pendukung untuk kesehatan mental siswa sama saja dengan membangun gedung pencakar langit di atas fondasi yang rapuh.
Tiga Pilar Pendidikan Masa Depan
Dari riset mendalam tersebut, Iis Rosilah menyimpulkan sebuah kerangka kerja fundamental untuk pendidikan di era modern. Untuk menghadapi tantangan zaman, siswa tidak cukup hanya cerdas, tetapi juga harus seimbang.
Literasi Kecerdasan Buatan (AI): Bukan sekadar bisa menggunakan, tetapi memahami cara kerja, etika, dan dampak AI. Tujuannya adalah menjadikan siswa sebagai tuan atas teknologi, bukan budaknya.
Penguatan Kesehatan Mental: Pendidikan harus secara proaktif menyediakan ruang aman, layanan konseling, dan program-program yang membangun ketahanan emosional, empati, dan kemampuan sosial siswa.
Penanaman Nilai-Nilai Islam: Sebagai kompas moral, nilai-nilai spiritual memberikan tujuan, ketenangan, dan karakter yang kuat untuk menavigasi dunia yang terus berubah.
Ketiga pilar ini bukanlah mata pelajaran yang terpisah, melainkan sebuah ekosistem yang harus terintegrasi dalam setiap aspek pendidikan.
“Ibu Iis Rosilah memaparkan metodologi dan data risetnya di hadapan audiens International Conference ICON IMAD XIV di Brunei Darussalam.”
Studi Kasus AIMAH: Ketika Teori Menjadi Aksi Nyata di Yayasan Muthahhari
“Ibu Iis Rosilah, S.Pd.I, guru dari Yayasan Muthahhari, saat mempresentasikan program AIMAH (AI & Mental Health). Layar di belakangnya menyoroti program ini sebagai ‘Excellent Program’ yang dirancang untuk memperkuat kesehatan mental siswa di era AI.”
Inilah bagian yang paling penting. Konsep tiga pilar ini bukan lagi sekadar presentasi di konferensi internasional; ia telah hidup dan diimplementasikan melalui sebuah program terobosan bernama AIMAH (AI dan Mental Health) di Yayasan Muthahhari.
“Logo AIMAH (AI & Mental Health), Program Yayasan Muthahhari”
Program AIMAH adalah bukti nyata komitmen Yayasan Muthahhari dalam menjawab tantangan zaman. Program ini secara konkret memberikan edukasi tentang pemanfaatan AI yang positif sekaligus memperkuat kesehatan mental para siswa. AIMAH diterapkan di semua unit sekolah, mulai dari:
Sekolah Cerdas Muthahhari (Fun Schooling)
SMP Bahtera (Berakhlak dan Terampil)
SMP Plus Muthahhari (Berakhlakul Karimah, Intelek, Kreatif)
SMA Plus Muthahhari (Sekolah Para Juara)
Menatap Masa Depan: Pendidikan yang Memanusiakan
Langkah yang diambil oleh Yayasan Muthahhari adalah pengingat penting bagi kita semua. Tujuan tertinggi dari pendidikan bukanlah untuk menciptakan manusia yang paling tahu teknologi, melainkan untuk membentuk manusia yang paling bijak dalam menggunakannya.
Dengan menyeimbangkan kecerdasan buatan, kesehatan mental, dan nilai-nilai luhur, kita tidak hanya mempersiapkan siswa untuk bekerja di masa depan, tetapi juga untuk hidup sebagai manusia seutuhnya.
Sebagai puncak pengakuan atas gagasan yang dipaparkan, pada malam puncak Apresiasi Persidangan Antar Bangsa Islam di Alam Melayu Kali ke-14, karya tulis berjudul “Balancing Artificial Intelligence, Mental Health and Islamic Value Education: Pillars of Future Learning in The AI Era” yang dipresentasikan oleh Ibu Iis Rosilah bersama timnya, secara resmi dianugerahi penghargaan ‘Best Paper (English)’ dalam International Conference on Islam in Malay World XIV (ICON IMAD XIV) 2025.
“Tim hebat di balik karya yang hebat. Ibu Iis Rosilah (tengah, memegang sertifikat) berfoto bersama sebagian tim peneliti dan delegasi lainnya setelah menerima penghargaan ‘Best Paper (English)’ di Brunei. Prestasi ini adalah buah dari kolaborasi yang luar biasa.”
“Bukti pengakuan internasional: Sertifikat penghargaan ‘Best Paper (English)’ untuk karya tulis yang mengangkat konsep program AIMAH ke panggung dunia.”
“Momen kebanggaan! Ibu Iis Rosilah sesaat setelah menerima penghargaan ‘Best Paper (English)’ di Brunei Darussalam. Selamat atas pencapaian yang luar biasa ini!”
“Liputan dari Borneo Bulletin, surat kabar berbahasa Inggris terkemuka di Brunei, yang menyoroti kemenangan tim UIN Sunan Gunung Djati Bandung.”
Pengakuan atas prestasi ini datang dari salah satu media berbahasa Inggris paling berpengaruh di Brunei Darussalam, Borneo Bulletin. Dalam edisinya hari Kamis, 9 Oktober 2025, Borneo Bulletin secara jelas menyebutkan kemenangan tim dari Indonesia dalam artikelnya yang berjudul “Academics feted at ceremony”. Media ini mengutip: “The winner for the English category was Iis Rosilah, Ayi M Siroujudin, Dima Noor Ziehad, Hasbiyallah and Dedi Sulaeman from UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia…”. Liputan ini menunjukkan bahwa pencapaian tersebut berhasil menjangkau audiens internasional yang lebih luas.
“Kemenangan ‘Best Paper’ juga menjadi berita dalam surat kabar Media Permata edisi 9 Oktober 2025.”
Surat kabar Media Permata turut mengabarkan berita gembira ini kepada para pembacanya di Brunei. Pada edisi yang sama, 9 Oktober 2025, media ini menyoroti acara “Majlis apresiasi rai pembenang ICON IMAD XIV” dan secara spesifik menulis: “Sementara Pemenang Terbaik Bahasa Inggeris dimenangi oleh Iis Rosilah, Ayi M Sirojudin… dari Universiti Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, Indonesia…”. Kehadiran berita ini di Media Permata mengukuhkan relevansi pencapaian tersebut bagi masyarakat lokal.
“Surat kabar Pelita Brunei turut serta menyebarkan kabar baik tentang prestasi delegasi Indonesia di ICON IMAD XIV.”
Konfirmasi lebih lanjut datang dari Pelita Brunei, yang juga meliput acara penganugerahan pada 9 Oktober 2025. Dalam laporannya, Pelita Brunei menyatakan bahwa tim dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi pemenang untuk Kertas Kerja Terbaik Bahasa Inggeris, dengan menulis: “Manakala Iis Rosilah, Ayi M Sirojudin… memenangi bagi Kertas Kerja Terbaik Bahasa Inggeris…”. Liputan dari tiga media berbeda ini menunjukkan betapa signifikannya acara dan pencapaian yang diraih.
Penghargaan ini adalah validasi internasional bahwa solusi pendidikan yang diusung melalui program AIMAH di Yayasan Muthahhari bukan hanya sebuah konsep, melainkan sebuah mahakarya pemikiran yang diakui keunggulannya di panggung global. Selamat atas pencapaian yang luar biasa ini!
“Balai Khazanah Islam Sultan Khazanah Bolkiah”
Tertarik dengan pendekatan pendidikan holistik kami? Pelajari lebih lanjut tentang kurikulum di sekolah-sekolah Yayasan Muthahhari:
Setiap guru pasti pernah merasakan sulitnya bersaing dengan distraksi digital. Seorang guru kami berbagi, “Anak sekarang itu mudah terdistraksi, terus mereka juga kadang-kadang suka langsung kehilangan fokus ketika ada materi yang baru.”
Permasalahan ini menjadi pemicu utama bagi kami untuk mencari solusi. Kami sadar, kami membutuhkan dua hal mendasar:
Perangkat yang relevan dengan zaman.
Pelatihan bagi para guru untuk menciptakan media ajar yang interaktif dan menarik.
Kolaborasi Akademik di Balik Solusi Inovatif
Solusi untuk tantangan ini lahir dari sebuah kolaborasi istimewa. SMA Plus Muthahhari terpilih menjadi mitra dalam program Hibah Skema Pengabdian kepada Masyarakat yang Didanai oleh KEMENDIKTISAINTEK Tahun 2025.
Yang lebih membanggakan, program ini dipimpin langsung oleh salah satu alumni kebanggaan kami, Bapak Remandhia Mulcki (Angkatan 11), yang kini menjadi dosen di Universitas Presiden. Berikut adalah detail resmi dari proyek yang menjadi landasan inovasi di sekolah kami:
Judul Proyek: “Peningkatan Kualitas Pengalaman Belajar (Learning Experience) Siswa Generasi Z di SMA (Plus) Muthahhari Bandung melalui Perancangan Media Pembelajaran Berbasis Gamifikasi, Emotional Design, dan Storytelling”
Tim Pelaksana (Universitas Presiden):
Ketua: REMANDHIA MULCKI (NIDN: 0412108803)
Anggota: FRANSISKA RACHEL (NIDN: 0409047602)
Anggota: HADI JAYA PUTRA (NIDN: 0426089801)
Simak rangkuman perjalanan dan kisah sukses kami dalam video berikut ini:
Hasil Kolaborasi: LKS Berbasis Gamifikasi Lahir
Melalui workshop intensif yang dipandu oleh tim dari Universitas Presiden, para guru di SMA Plus Muthahhari dibekali kemampuan untuk merancang Lembar Kerja Siswa (LKS) yang revolusioner. LKS ini tidak lagi monoton, melainkan berbasis gamifikasi, storytelling, dan desain yang menarik secara emosional.
Tidak seperti LKS konvensional, metode pembelajaran inovatif kami memiliki beberapa keunggulan kunci:
Tujuan yang Jelas: Setiap LKS dilengkapi capaian dan tujuan pembelajaran yang transparan bagi guru dan siswa.
Visualisasi Menarik: Materi disajikan dengan visual yang interaktif untuk menjaga ketertarikan siswa.
Kuis Berjenjang: Terdapat kuis dari level 1 hingga 5 yang dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Fokus pada Pengalaman: Pendekatan gamifikasi membuat siswa merasa seperti bermain sambil belajar, bukan terbebani.
Dampak Nyata di Dalam Kelas: Testimoni dari Guru dan Siswa
Perubahan paling signifikan terasa langsung di dalam kelas. Suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan siswa menunjukkan antusiasme yang luar biasa.
Seorang guru mengungkapkan, “Pembelajaran dapat berjalan dengan lancar… dan murid juga merasa bahagia, tidak terbebani.” Pengalaman ini juga memperkaya kemampuan para guru dalam membuat media ajar yang relevan dengan perilaku Generasi Z.
Bagaimana dengan siswa?
“Sangat senang dan tidak membosankan ya, karena kita juga belajarnya lewat aplikasi,” ujar Saniyya Keisya Andini salah satu Murid SMA Plus Muthahhari.
“Seru, karena bisa mempelajari hal-hal baru tapi dengan cara pembelajaran yang seru,” tambah Chirza Fahredin Murid SMA Plus Muthahhari lainnya.
Keberhasilan implementasi metode pembelajaran inovatif ini bukanlah titik akhir, melainkan awal dari komitmen kami untuk terus beradaptasi dan berinovasi. Kami percaya bahwa setiap siswa memiliki potensi tak terbatas yang dapat digali melalui lingkungan belajar yang tepat.
SMA Plus Muthahhari bangga menjadi pelopor dalam menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya mencerdaskan secara intelek, tetapi juga menyenangkan dan relevan dengan dunia mereka.
Ditulis oleh: Ihsan Jihadi, Guru SMA Plus Muthahhari | 7 Oktober 2025
🌿 “Rindu Maulid – Mari Songsong Maulid dengan Semangat & Cinta Rasulullah SAWW” 🌿
📅 Hari/Tanggal: Rabu, 10 September 2025 🕰️ Waktu: 07.30 – 12.00 WIB 📍 Tempat: Aula Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat
Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAWW, memperkokoh keimanan, serta memperkuat nilai-nilai akhlak mulia di kalangan peserta didik, pendidik, dan seluruh warga sekolah.
Adapun rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain:
Majelis Tilawatil Qur’an
Senandung Shalawat
Prosesi Wisuda Juz 30
Majelis Ilmu “Rindu Rasul”
Lomba Nasyid (Bahasa Arab, Indonesia, dan Sunda)
Lomba Cerdas Cermat (Fahm Surat Pendek, Tajwid, Pemikiran Kang Jalal)
Lomba Kultum “Pemikiran Kang Jalal”
Membuat Surat untuk Rasulullah
Lomba Kaligrafi Arab
Lomba Azan
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh warga sekolah dapat mengambil hikmah dari keteladanan Nabi Muhammad SAWW dan menjadikannya inspirasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek pembelajaran maupun dalam pembentukan karakter.
Pernahkah kamu menatap hamparan bintang di langit malam Bandung dan merasa takjub? Pernahkah terlintas di benakmu, ada misteri apa saja yang tersimpan di balik titik-titik cahaya itu? Jika ya, maka kamu tidak sendirian. Sebuah petualangan baru akan segera dimulai di sekolah kita, dan kami mengundangmu untuk menjadi bagian darinya.
Dengan bangga kami perkenalkan: Klub Astronomi Astralith!
Apa Itu Astralith?
Astralith adalah nama yang kami rangkai dari dua kata: Astra, yang berarti bintang, dan Lith, yang berarti batu atau fondasi. Bagi kami, Astralith adalah fondasi bagi para pemimpi dan pemikir untuk bersama-sama menjelajahi bintang. Sesuai dengan moto kami, “Ad Astra Per Aspera,” kami percaya bahwa perjalanan untuk memahami alam semesta memang penuh tantangan, tapi justru itulah yang membuatnya seru dan berharga.
Klub ini bukan sekadar tempat belajar fisika dan matematika. Ini adalah ruang bagi imajinasi, kreativitas, dan rasa penasaran. Terinspirasi dari keindahan peta bintang kuno dan mekanisme jam astronomi yang rumit, Astralith ingin menggabungkan sains, seni, dan sejarah dalam setiap kegiatannya.
Apa Saja Kegiatan Seru di Astralith?
Kami sudah menyiapkan berbagai program menarik yang akan membuatmu semakin jatuh cinta pada kosmos:
🔭 Malam Pengamatan Bintang (Stargazing): Tentu saja! Kita akan rutin mengadakan malam pengamatan untuk berburu konstelasi, melihat planet tetangga, dan jika beruntung, menyaksikan hujan meteor bersama.
🌌 Diskusi & Bedah Konsep: Dari lubang hitam, nebula, hingga galaksi Andromeda. Kita akan membahas topik-topik paling keren di alam semesta dengan santai. Kita juga akan mengulik mitologi di balik nama-nama rasi bintang.
🛠️ Workshop Kreatif: Ingin mencoba astrophotography dengan kamera sederhana? Atau membuat model tata surya dan diorama galaksi? Di sini tempatnya kita bereksperimen.
🚀 Nonton Bareng & Kunjungan: Kita akan nonton film-film fiksi ilmiah legendaris dan membahas sains di baliknya. Mengunjungi Observatorium Bosscha juga ada dalam daftar impian kita!
Kenapa Kamu Harus Gabung?
Jika kamu adalah orang yang…
Selalu penasaran dengan langit malam.
Suka berpikir kreatif dan di luar kotak.
Ingin punya teman diskusi yang asyik dan sefrekuensi.
Mencari kegiatan ekstrakurikuler yang seru dan menambah wawasan.
…maka Astralith adalah tempat yang tepat untukmu!
Ayo, jadi bagian dari perjalanan kami menuju bintang! Nantikan informasi pendaftaran selanjutnya di mading sekolah dan akun media sosial kami.
Hari ini, Rabu, 28 Mei 2025, menjadi momen tak terlupakan bagi seluruh keluarga besar SMA Plus Muthahhari Bandung! Panen Karya: Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) – Kearifan Lokal telah sukses digelar dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Bertempat di aula KH. Jalaluddin Rakhmat yang dihias dengan nuansa tradisional, acara ini menghadirkan serangkaian penampilan memukau yang mencerminkan kekayaan budaya lokal sekaligus semangat pelajar Pancasila.
Acara dimulai dengan penuh semangat melalui penampilan Kabayan dan Ambu yang diiringi Cepot, membawa nuansa Sunda yang kental dan penuh humor. Tawa para siswa menggema saat Kabayan dengan jenaka berbincang dengan Ambu, sementara Cepot menghibur dengan tingkahnya yang khas. Kemudian, tausyiah penuh hikmah dari KH. Miftah F Rakhmat mengisi hati dengan inspirasi, mengajak semua untuk merawat nilai-nilai luhur Pancasila. Sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Bu Dewi Listia, menyemangati siswa untuk terus berkarya. Kemeriahan berlanjut dengan penampilan Group Tahfidz yang menghipnotis hadirin dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, membawa kedamaian dan kekhusyukan di tengah suasana yang meriah. Tak ketinggalan, alunan Degung yang lembut namun memukau mengalun, membawa para penonton seolah-olah berada di tengah hamparan sawah Priangan yang damai.
Kegembiraan semakin memuncak saat penampilan Cepot kembali hadir dengan lawakan yang mengundang gelak tawa, membuat siswa tak henti-hentinya bertepuk tangan. Lalu, Paduan Suara SMA Plus Muthahhari tampil dengan harmoni indah, menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang diaransemen oleh guru paduan suara (Kak Ical) seperti “Terbaik bagimu dari Ada Band” dan “Naik Delman dari Ibu Soed”. Puncak acara menjadi semakin istimewa dengan Borangan oleh Pak Asep Suharna, sebuah penampilan seni tradisional yang penuh makna, mengajarkan nilai-nilai keberanian dan kerja sama kepada para siswa.
Seluruh rangkaian acara ini diikuti dengan antusiasme tinggi oleh murid-murid SMA Plus Muthahhari. Wajah mereka berseri-seri, penuh kebahagiaan dan kebanggaan, karena tidak hanya menikmati penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan kearifan lokal yang begitu dekat dengan hati. Mereka berfoto bersama , berbagi cerita, dan saling memuji karya teman-teman mereka yang dipamerkan di expo. “Ini acara paling seru yang pernah aku ikuti! Aku bangga bisa belajar budaya Sunda sambil bersenang-senang,” ujar salah seorang siswa dengan senyum lebar.
Dengan tema “Merawat Kearifan, Menjadi Insan Berperadaban”, Panen Karya kali ini tidak hanya sukses memukau hati, tetapi juga memperkuat karakter pelajar Pancasila yang cinta budaya, kreatif, dan berjiwa gotong royong. SMA Plus Muthahhari telah membuktikan bahwa pendidikan yang berakar pada kearifan lokal mampu menciptakan generasi muda yang berperadaban dan penuh semangat. Selamat kepada seluruh panitia, guru, dan siswa atas keberhasilan acara ini—kebahagiaan kalian adalah cerminan masa depan Indonesia yang gemilang!
Panen Karya 2025 telah membuktikan bahwa SMA Plus Muthahhari adalah sekolah para juara yang tak hanya belajar, tetapi juga hidup dalam kebahagiaan dan kebanggaan nasional!
Ayo, saksikan keajaiban kreativitas anak bangsa di Panen Karya: Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) – Kearifan Lokal! Pada hari Rabu, 28 Mei 2025, SMA Plus Muthahhari Bandung akan menggelar acara spesial bertajuk Expo yang memadukan semangat pendidikan, budaya, dan inovasi. Dengan tema “Merawat Kearifan, Menjadi Insan Berperadaban”, acara ini bukan sekadar pameran, melainkan perjalanan inspiratif yang membawa kita kembali menyentuh akar budaya lokal sambil melangkah menuju masa depan yang gemilang.
Di sini, para juara muda dari “Sekolah Para Juara” akan menampilkan karya-karya istimewa yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Dari tarian tradisional yang memukau, alunan musik angklung yang menghanyutkan, hingga kerajinan tangan seperti anyaman bambu dan motif batik modern—semuanya adalah bukti bahwa kearifan lokal dapat bersinar di era digital.
Acara ini adalah panggung bagi siswa untuk menunjukkan bakat mereka, sekaligus mengajak kita semua untuk merawat warisan leluhur sambil membangun karakter berperadaban. Expo ini akan menjadi saksi bagaimana generasi muda Muthahhari mengintegrasikan kreativitas dengan identitas nasional. Jangan lewatkan momen spesial ini—datanglah, nikmati, dan jadilah bagian dari perayaan kebanggaan ini di SMA Plus Muthahhari Bandung!
Biaya Pengembangan Program : Rp. 2.500.000 (dibayarkan setiap kenaikan kelas)
Menerima RMP dengan syarat menyerahkan DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Wilayah Bandung)
Pelunasan sebelum tanggal 1 Maret 2025, Diskon 20% UDP dan 10% SPP Bulan Juli
Pelunasan sebelum tanggal 15 Juni 2025, Diskon 10% UDP dan 10% SPP Bulan Juli Potongan 10% SPP hanya untuk bulan Juli saja, bulan-bulan berikutnya membayar Rp. 850.000
Jalur Prestasi Akademik dan Non Akademik Tahun Pelajaran 2025-2026
Tiga terbaik lulusan SMP Bahtera, SMP Plus Muthahhari dan SMP Al Mukarramah (Ijazah dan Nilai Raport) Diskon 25% UDP dan 10% SPP bulan Juli.
Tiga terbaik lulusan SMP Negeri/Swasta (Ijazah dan Nilai Raport) Diskon 20% UDP dan 10% SPP bulan juli.
Juara Lomba Akademik/Non Akademik (Sertifikat Hasil Lomba dan Fotokopi yang sudah disahkan oleh Penyelenggara) a. Tingkat Kab/Kota, Diskon 20% UDP dan 10% SPP bulan Juli. b. Tingkat Provinsi, Diskon 25% UDP dan 10% SPP bulan Juli. c. Tingkat Nasional, Diskon 30% UDP dan 10% SPP bulan Juli.
Hafizh Al Quran (Sertifikat LPTQ, hafalan akan dievaluasi setiap semester) – 10 Juz, Diskon 20% UDP dan 10% SPP bulan Juli. – 20 Juz, Diskon 25% UDP dan 10% SPP bulan Juli. – 30 Juz, Diskon 30% UDP dan 10% SPP bulan Juli. Potongan 10% SPP hanya untuk bulan Juli saja, bulan-bulan berikutnya membayar Rp. 850.000
SEKOLAH-SEKOLAH YAYASAN MUTHAHHARI (SMP BAHTERA, SMP PLUS MUTHAHHARI dan SMP AL MUKARRAMAH)
Pelunasan sebelum tanggal 15 Juni 2025 Diskon 25% UDP dan 10% SPP bulan Juli.
Pelunasan setelah tanggal 15 Juni 2025 Diskon 20% UDP dan 10% SPP bulan Juli. Potongan 10% SPP hanya untuk bulan Juli saja, bulan-bulan berikutnya membayar Rp. 850.000
Di tengah maraknya sekolah-sekolah yang mengirimkan siswa-siswinya ke luar untuk mengikuti berbagai macam pelatihan motivasi, training spiritual, hingga camp bertema survival, Yayasan Muthahhari mengambil langkah berbeda. Kami tidak merasa perlu mengadopsi program luar jika kami telah mampu menyelenggarakan kegiatan serupa dengan ruh dan cita rasa yang lebih mendalam—yakni yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan semangat pencerahan yang kami pegang.
Kami memiliki SC (Spiritual Camp), SAC (Scout Adventure Camp), dan SWC (Spiritual Work Camp)—tiga kegiatan unggulan yang bukan sekadar program tahunan, tetapi adalah bagian dari ruh pendidikan karakter di Muthahhari. SC menguatkan aspek spiritual dan pengenalan diri. SAC menempa ketangguhan mental dan kerja sama tim melalui kegiatan alam. Dan SWC memperdalam empati dan tanggung jawab sosial dengan kerja-kerja nyata di masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya pemindahan ilmu dari otak guru ke otak murid, tetapi adalah proses pembentukan jiwa. Kita ingin anak-anak kita menjadi manusia seutuhnya—yang berpikir dengan akalnya, merasakan dengan hatinya, dan bergerak dengan jiwanya.” — KH. Jalaluddin Rakhmat
Kutipan itu bukan sekadar semboyan bagi kami di Yayasan Muthahhari. Ia menjadi fondasi dalam merancang setiap program pendidikan yang tidak hanya menargetkan prestasi akademik, tetapi lebih dari itu—membentuk karakter yang tangguh, empatik, dan berjiwa spiritual.
Ketiga program ini dirancang bukan hanya untuk membekali siswa dengan keterampilan fisik dan emosional, tetapi juga untuk mengakar kuat pada nilai-nilai spiritualitas, keberanian sosial, dan semangat melayani. Di dalam SC, mereka belajar merenung dalam hening, berdialog dengan diri sendiri, dan mendekat kepada Sang Pencipta. Di SAC, mereka belajar bertahan, memimpin, dan membangun solidaritas. Sementara dalam SWC, mereka menyatu dengan masyarakat, membersihkan masjid, membantu petani, hingga berdialog dengan mustadh’afin—yang semuanya membentuk kepekaan sosial yang otentik.
Kami percaya bahwa karakter tidak dibentuk dalam ruangan ber-AC dengan slide motivasi. Karakter lahir dari keringat, doa, tawa, dan air mata yang jatuh dalam proses menempa diri. Maka, bagi kami, cukup: SC, SAC, dan SWC. Inilah jalan kami mencetak insan-insan tangguh yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Muthahhari tidak sekadar mendidik siswa untuk lulus ujian, tetapi menyiapkan mereka untuk lulus dalam kehidupan.
“Kalau Muthahhari sudah punya SC, SAC, dan SWC, maka kami tak butuh pengganti. Cukup ini, untuk menjadikan anak-anak kami tangguh, cerdas, dan berkarakter.”
Scout Adventure Camp (SAC) adalah salah satu program unggulan SMA Plus Muthahhari yang dirancang tidak sekadar untuk melatih keterampilan kepramukaan, tetapi juga menempa karakter, jiwa kepemimpinan, dan semangat pengabdian sosial. Selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu, 1–3 Mei 2025, para peserta kelas X berjumlah 27 orang mengikuti rangkaian kegiatan intensif di kaki Gunung Manglayang, Batu Kuda. Mereka dipandu oleh panitia Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra, didampingi oleh pembina Kak Iis Rosilah, serta dilatih langsung oleh Kak Mulyadi, Kak Helmi, dan Kak Resti dari Satuan Pramuka UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Hari Pertama: Menyalakan Nyala Kepemimpinan Hari baru dimulai bukan dengan teori besar, melainkan dengan hal kecil: latihan memasang sepatu secepat dan seakurat mungkin. Mungkin terdengar sepele, tetapi di sanalah karakter dibentuk—dari ketepatan waktu dan kesungguhan. Kemudian tenda-tenda berdiri dalam lomba membangun dom kelompok: latihan kepemimpinan dan kerja sama dalam wujud nyata. Yel-yel digemakan, penuh semangat dan tawa, memperkuat persaudaraan. PBB (Peraturan Baris Berbaris) dilatih bukan sekadar keteraturan langkah, tapi juga keteguhan hati.
Di sela aktivitas, aroma sedap masakan ala alam tercium dari lomba memasak. Di sinilah kemandirian diuji: bukan hanya bisa hidup, tetapi hidup dengan rasa dan rasa syukur. Malamnya, tafakur di atas bukit. Di bawah langit yang luas, anak-anak duduk hening. Bintang-bintang menyaksikan mereka berdialog diam dengan Tuhan. Tak banyak kata, hanya hati yang menyatu dalam tadabur alam. Di akhir malam, Sandi Morse cahaya menyala di tangan mereka, menyampaikan pesan dari hati ke hati, dari cahaya ke cahaya.
Hari Kedua: Dari Ujian Jadi Ketangguhan Subuh membuka hari kedua. Doa dan kultum menenangkan, tapi juga menguatkan. Setelah senam dan sarapan, saatnya memasuki jantung petualangan: Wide Game Adventure. Ada lima pos, masing-masing seperti babak dalam cerita kehidupan: • Gerak bersama • Sandi semapur • Baris-berbaris • Pembuatan tandu darurat • Simulasi evakuasi bencana Petualangan ini bukan hanya tentang teknik. Mereka belajar strategi, kecepatan, daya tahan, bahkan makan siang pun dalam suasana perang: tiarap, menghindar, berguling, dan mengangkat kaki seolah menyelamatkan diri dari reruntuhan. Semua adalah simulasi, tapi kesungguhan mereka nyata. Setelahnya, teori-praktik P3K membekali mereka untuk menyembuhkan, membaca alam raya mengajarkan kepekaan dan kebijaksanaan, serta persiapan api unggun menjadi tempat mereka belajar memimpin dalam diam dan tanggung jawab bersama.
Malamnya, pelantikan Bantara oleh Kepala Sekolah Ibu Ir. Dra. Dewi Listia, M.Si., berlangsung di tengah hujan. Suasana khidmat. “BANTARA adalah singkatan dari Bantu Tata Ramu. Jadilah penegak yang bisa membantu, menata, dan meramu kebaikan,” pesan beliau.
Hujan reda. Api unggun dinyalakan. Kak Mulyadi memberi amanat, “Jadilah api yang menghangatkan, bukan membakar. Jadilah semangat yang menyatukan, bukan memecah.” Pentas seni meledak dengan kreativitas. Dari tari, pantun, drama, hingga parodi. Anak-anak menari, menyanyi, dan tertawa. Seolah lelah dan dingin tidak pernah ada. Bahkan saat tenda mereka basah, mereka tetap menyanyikan “di sini senang, di sana senang” dengan gembira. Anak Pramuka memang seperti penyanyi dangdut: menangis sambil bergoyang, basah sambil tertawa.
Hari Ketiga: Di Puncak Kita Menjadi Pagi subuh mereka bangkit lagi, beribadah di bawah udara sejuk gunung, lalu hiking menuju puncak. Di sana, mereka menatap Bandung dari ketinggian. Kabut menyibak, cahaya mentari menyembul. Diam-diam mereka merasa: “Ini indah, dan aku kuat.”
Setelah berkemas, upacara penutupan menjadi panggung terakhir. Hadiah dibagikan. Lelah tak terasa saat kebahagiaan menyapa. Salah satu peserta, Sauqi, berkata dengan senyum: “Cape itu ilusi, Kak. Karena hatiku senang.”
Pesan dan Kesan SAC untuk Para Orang Tua
SAC bukan sekadar kemah. Ia adalah madrasah kehidupan. Di sana, anak-anak Anda belajar tanpa papan tulis, tapi dengan langit sebagai atap dan tanah sebagai guru. Mereka belajar hidup dalam keterbatasan, belajar bangkit setelah jatuh, dan belajar mencintai kebersamaan.
Di SAC, anak Anda menangis karena rindu, tapi juga tertawa karena cinta. Mereka belajar menghormati pemimpin, mencintai teman, dan menyapa semesta.
Untuk Ayah dan Bunda, yakinlah: di sinilah anak-anak itu ditempa. Dengan SC (Spiritual Camp), SAC (Scout Adventure Camp), dan SWC (Spiritual Work Camp), Muthahhari bukan hanya mendidik, tapi menghidupkan nilai.
Muthahhari cukup. Cukup untuk melahirkan pemimpin masa depan. Cukup untuk membuat anak Anda mencintai ilmu, alam, sesama, dan Tuhan. Cukup, karena di sinilah jiwa-jiwa dibentuk.
Kami, Keluarga besar SMA Plus MUTHAHHARI, mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih oleh Gusti Fachiandi Arraya Noor dari kelas X-A yang telah meraih Juara 2 dalam Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Piala Panglima TNI 2024 Tingkat Provinsi Jawa Barat.
Pada pagi yang cerah, tanggal 4 November 2024, di Sekolah Para Juara, SMA Plus Muthahhari, langit biru membentang sebagai saksi pada Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih yang khidmat. Sebuah prosesi yang bukan sekadar seremonial, namun mencerminkan nilai-nilai Islam madani, bukti nyata bahwa para murid di sini adalah generasi muslim sejati, yang tidak hanya mencintai tanah air, tetapi juga mengemban tugas sebagai pemuda-pemudi yang menghidupkan nilai Islam dalam keseharian mereka.
Upacara berjalan penuh ketenangan, setiap langkah dan sikap tertib mencerminkan keteguhan hati untuk menghormati perjuangan bangsa. Pembina upacara berdiri dengan kharismanya, memimpin doa dengan penuh keindahan dan ketulusan. Doa itu bukan hanya permohonan biasa, tetapi sebuah persembahan kepada para pejuang Indonesia yang telah mengorbankan jiwa raga demi tanah air ini. Setiap kata yang terucap mengalir dalam keheningan pagi, menggetarkan hati dan mengingatkan kita bahwa kemerdekaan adalah warisan yang harus dijaga dengan penuh cinta.
Di tengah upacara, Pembina upacara memberikan tantangan kepada para murid, memanggilnya untuk mengulang isi butir-butir Sumpah Pemuda yang sakral. Tantangan ini tidak hanya memacu keberanian, namun juga menguji pemahaman mereka atas janji suci para pemuda yang telah terucap pada 28 Oktober 1928. Hanna, seorang murid, maju ke depan dengan semangat. Dengan lantang, ia mengucapkan butir-butir Sumpah Pemuda, menyatukan tekad dan hati seluruh peserta upacara dalam satu semangat yang sama: semangat kebangsaan yang tak akan luntur.
Usai tantangan itu, diumumkan pula bahwa ketuntasan belajar untuk mata pelajaran PPKN, khususnya dalam menghafal UUD 1945. Bagi mereka yang telah menguasainya, ini bukan sekadar hafalan, tetapi wujud kecintaan dan penghargaan terhadap dasar hukum bangsa yang menjadi fondasi tegaknya Indonesia.
Selanjutnya, Ibu Kepala Sekolah, Ir. Dra. Dewi Listia, M.Si., menyampaikan ulasan sejarah Sumpah Pemuda secara mendalam. Dalam pidatonya, beliau mengingatkan bagaimana tekad dan persatuan para pemuda pada masa itu mampu melahirkan ikrar yang mengubah arah bangsa. Beliau juga mengulas hikmah dari Sumpah Pemuda yang tetap relevan hingga kini. Sumpah itu mengajarkan persatuan dalam keberagaman, bahwa kita, sebagai bangsa, harus senantiasa bersatu di tengah perbedaan yang ada. Beliau menekankan bahwa semangat ini harus hidup dalam diri setiap siswa SMA Plus Muthahhari, sebagai pemuda yang menghargai perbedaan.
Nilai-nilai Pramuka, yang melekat erat dalam pendidikan di sini, juga menjadi refleksi dari peristiwa Sumpah Pemuda. Sebagai anggota Pramuka, siswa-siswi diajarkan untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjunjung tinggi persatuan. Inilah implementasi nyata dari semangat Sumpah Pemuda, membentuk karakter mandiri yang siap mengabdi bagi bangsa.
Akhir dari sambutannya disempurnakan dengan pengumuman mengenai kegiatan pekat keagamaan “Dirasah Islamiyah,” sebuah program untuk memperkaya wawasan keilmuan agama yang disiapkan dengan penuh cinta dan dedikasi. Kegiatan ini diadakan untuk mendukung visi misi Yayasan Muthahhari, yaitu “Untuk Pencerahan Pemikiran Islam.” Harapannya, dengan kegiatan ini, para siswa tidak hanya menjadi pemuda yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang mendalam, sehingga dapat menjadi cahaya penerang bagi masyarakat di sekitarnya.
Dengan upacara ini, setiap siswa SMA Plus Muthahhari diajak untuk merenung, menghayati, dan meresapi betapa agungnya perjuangan para pahlawan, betapa pentingnya persatuan, dan betapa mulianya mengabdi untuk agama, bangsa, dan negara.